Pasar Mainan Domestik Delum Tergarap Optimal

Pasar mainan anak belum digarap secara optimal oleh para industri mainan di Indonesia, meskipun permintaannya tumbuh cukup pesat seiring dengan meningkatnya populasi anak-anak, sehingga pasar tersebut diisi oleh produk impor dari China.
Hal itu mengemuka dalam pemaparan rencana pameran Jakarta International Toys & Games Fair 2008 yang dihadiri Kepala Balai Besar Pelatihan Usaha Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), Bambang Mulyatno, Wakil Sekjen Asosiasi Industri Mainan Indonesia (APMI) Riza Ambadar, dan Ketua Asosiasi Penggiat Mainan Edukatif Tradisional Indonesia (APMETI) Dhanang Sasongko, di Jakarta, Rabu.

Wakil Sekjen APMI Riza Ambadar mengakui 14 perusahaan industri mainan anak skala menengah dan besar yang menjadi anggota APMI, sebagian besar berorientasi pasar ekspor, dibandingkan pasar domestik.

“Sebagian besar industri mainan di dalam negeri dipasok untuk memenuhi pesanan dari merek terkenal di luar negeri,” katanya.

Apalagi, lanjut dia, dengan terkuaknya minimnya standar keamanan dan kesehatan mainan buatan China membuat sejumlah pemegang merek mainan anak mulai mengalihkan pesanannya ke industri mainan di Indonesia.

“Angkanya saya belum tahu persis, tapi pastinya ekspor mainan anak akan meningkat,” kata Riza yang memperkirakan total ekspor mainan anak dari anggotanya mencapai sekitar US$160 juta pada 2007.

Menurut dia, dalam keadaan normal ekspor mainan anak dari Indonesia terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 10-15%. “Tahun 2008 pertumbuhan ekspornya bisa mencapai 15%,” katanya.

Diakui Kepala Balai Besar Pelatihan Usaha BPEN Bambang Mulyatno, peluang pasar mainan anak di dunia terus meningkat, tidak hanya di negara maju tapi juga di negara berkembang. Industri mainan nasional sebenarnya bisa bersaing tergantung pasar yang dibidik.

“Ada negara yang menerapkan standar keamanan yang ketat seperti negara maju, tapi ada juga yang tidak terlalu ketat seperti di Asia dan Afrika,” katanya.

Sementara itu Ketua APMETI Dhanang Sasongko mengatakan pasar mainan anak di Indonesia sudah terlanjur dikuasai produk impor dari China, yang harganya sangat murah dibandingkan produksi lokal.

“Produk mainan impor dari China menguasai sekitar tiga kali lipat produksi mainan kami yang setiap bulan mencapai sekitar 7.000 mainan per bulan,” katanya.

Ia mengatakan jika harga mainan buatan lokal seperti yang dibuat anggota APMETI sekitar Rp40 ribu – Rp60 ribu per mainan berbasis kayu, maka mainan impor dari China harganya bisa di bawah Rp10 ribu per mainan.

“Serbuan produk mainan dari China membuat industri mainan anak di dalam negeri sulit bersaing,” ujarnya.

Menurut dia, produk mainan asal China bisa lebih murah karena mengabaikan standar mutu dan keamanan, yang terbukti dari temuan salah satu lembaga uji, bahwa mobil-mobilan buatan China mengandung kadar timbal yang tinggi sekitar 353 miligram, jauh di atas standar yang diijinkan yaitu 90 mili.

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah cq Departemen Perdagangan segera membuat Standar Nasional Indonesia (SNI) agar produk mainan yang beredar di Indonesia memenuhi standar mutu dan keamanan bagi anak-anak, di samping melindungi industri dalam negeri yang telah membuat mainan sesuai standar keamanan.

Terkait dengan potensi pasar dan industri mainan lokal maupun internasional, PT Mediatama Binakreasi ingin mempertemukan para produsen, pengguna, pengembang teknologi, serta pembuat kebijakan dalam pameran mainan internasional di Balai Sidang Jakarta pada 7-10 Agustus 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s